PediaSure
- Main Image
-
- Title
- PediaSure Vanila
- Detail Page Path
Anak mengalami GTM (Gerakan Tutup Mulut) karena berbagai faktor seperti neophobia, gangguan sensorik, atau kondisi medis. Untuk mengatasinya, orang tua perlu memahami penyebab utama dan menerapkan strategi makan yang tepat.
GTM adalah kondisi ketika anak menolak makan dengan cara menutup mulut, membuang, atau memuntahkan makanan. Hal ini sering terjadi pada anak usia balita dan bisa memengaruhi tumbuh kembang jika berlangsung lama.
GTM (Gerakan Tutup Mulut) adalah fase di mana anak benar-benar menolak makan dalam bentuk apa pun, menutup mulut rapat, bahkan memuntahkan makanan. Kondisi ini bisa bersifat sementara, tetapi bila berlangsung lama, perlu penanganan medis atau psikologis.
Sementara itu, picky eater adalah kondisi saat anak hanya mau makan jenis makanan tertentu, biasanya karena faktor rasa, tekstur, atau kebiasaan. Anak picky eater tetap makan, meski pilih-pilih dan dalam jumlah terbatas.
Perbedaan utamanya:
Balita dan anak kecil yang menunjukkan kebiasaan makan yang tidak menentu merupakan tantangan bagi ibu atau pengasuhnya. Memahami beberapa kemungkinan di balik penolakan mereka untuk makan dapat membantu. Berikut lima alasan mengapa anak dapat melakukan GTM:
Anak usia 2 tahun ke atas sering menolak makanan baru karena rasa takut. Biasakan mengenalkan makanan secara perlahan sambil menunjukkan bahwa makanan tersebut aman.
Cita rasa anak-anak terhadap makanan bisa mencapai dua kali orang dewasa, sehingga menyebabkan peningkatan kepekaan terutama terhadap makanan yang rasanya kuat atau pahit. Selain rasa, balita juga seringkali fokus pada tekstur, aroma, penampilan, dan warna. Melibatkan rasa ingin tahu balita dengan membiarkan mereka bermain dan mengeksplorasi makanan dapat membiasakan mereka dengan pengalaman sensorik yang berbeda.
Anak sejatinya sudah mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan tubuhnya, termasuk menyesuaikan dengan rasa lapar. Jika seorang anak mengaku tidak lapar, coba untuk menawarkan makanan dan camilan secara perlahan. Batasi minuman seperti susu atau jus di antara waktu makan untuk memastikan agar mereka merasa lapar saat waktu makan.
Baca Juga: Penyebab & 8 Cara Mengatasi Anak Susah Makan!
Ketika badan anak terlalu lelah atau mengalami banyak gangguan, tidak jarang mereka enggan beraktivitas termasuk makan. Pastikan agar anak beristirahat dengan cukup dan tidak terlalu lelah saat masuk waktu makan.
Kadang-kadang, GTM juga bisa menjadi gejala kondisi medis yang tidak diketahui. Kondisi seperti sembelit, tumbuh gigi, infeksi virus, sensitivitas terhadap makanan dan lainnya dapat mempengaruhi selera makan anak. Memahami dan mengatasi kondisi-kondisi ini dapat membantu mengatasi masalah GTM.
Penyebab anak GTM yang lain adalah tumbuh gigi. Gigi susu anak biasanya mulai ada yang tumbuh di usia 6 bulan. Ketika gigi tumbuh, gusi anak dapat terasa nyeri, bengkak, dan lebih sensitif. Rasa tidak nyaman ini membuat anak enggan mengunyah atau menelan makanan.
Selain itu, tumbuh gigi juga sering disertai gejala lain, seperti produksi air liur berlebih, rewel, gangguan tidur, dan keinginan untuk menggigit benda di sekitarnya. Kombinasi berbagai kondisi tersebut dapat menyebabkan nafsu makan anak menurun untuk sementara waktu.
Anak GTM tumbuh gigi umumnya akan membaik setelah rasa tidak nyaman pada gusi berkurang. Ibu dapat memberikan menu makan anak GTM, misalnya makanan bertekstur lembut dan mudah ditelan untuk membantu anak tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.
Beberapa dampak buruk GTM untuk tumbuh kembang anak, yakni:
Anak yang terus menerus menolak makan berisiko menghadapi beragam masalah kesehatan, mulai dari kehilangan berat badan atau stagnasi kenaikan berat badan dalam jangka waktu tertentu hingga patah tulang. Pada kasus yang lebih parah, anak bisa mengalami gejala seperti penyakit kuning. Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa gizi anak tidak mencukupi dan dapat berbahaya bagi kesehatannya.
Gangguan makan merupakan kondisi di mana anak membatasi jumlah atau jenis makanan yang mau mereka makan, sehingga anak kekurangan asupan kalori. Kondisi ini dapat memicu masalah tumbuh kembang dan membuat mereka tidak selincah sebayanya.
Beberapa balita memiliki preferensi sensorik atau penolakan sensorik terkait tekstur, bau, penampilan, gerakan, atau warna makanan. Preferensi sensorik yang ekstrem dapat menunjukkan masalah mendasar dalam pemrosesan sensorik, yang dapat berimbas lebih luas terhadap interaksi anak dengan lingkungannya.
Penolakan makan yang terus-menerus dapat disertai dengan reaksi emosional yang kuat terhadap makanan tertentu, kecemasan terkait makanan, dan ketakutan terhadap makanan baru (neophobia). Seiring waktu, hal ini dapat mengganggu perilaku dan kesehatan mental yang lebih besar jika tidak ditangani.
Balita yang selektif terhadap makanan dapat berujung pada hanya bisa mengonsumsi kurang dari 20 jenis makanan yang berbeda sehingga memicu ketidakseimbangan nutrisi yang signifikan. Misalnya, jika seorang anak menolak mengonsumsi produk olahan susu apa pun, mereka mungkin mengalami kekurangan kalsium yang penting untuk perkembangan tulang.
Baca Juga: Ibu, Pahami Hubungan Proses Pencernaan Makanan dengan Penyerapan Nutrisi Anak di Sini!
Menghadapi masalah anak yang sedang melalui fase GTM bisa memicu frustrasi ibu atau pengasuh. Membedakan antara anak yang menjadi picky eater atau memang sedang GTM membutuhkan cara mengatasi yang berbeda, berikut adalah cara mengatasi anak GTM:
Perangkat elektronik seperti smartphone atau tablet dapat mengalihkan perhatian anak dari makanan. Biasakan agar anak makan dalam kondisi bebas gangguan dan fokus pada makanan dan orang sekitarnya.
Anak-anak membutuhkan makanan jauh lebih sedikit daripada orang dewasa. Memberikan porsi yang terlalu banyak bisa mengakibatkan makanan yang tidak habis, bukan karena tidak suka, tetapi hanya karena sudah kenyang. Menawarkan porsi yang lebih kecil dapat mengatasi hal ini, sehingga mereka akan meminta lebih jika mereka masih lapar.
Timing sangat tepat untuk menjadwalkan waktu makan anak. Menjadwalkan waktu makan terlalu dekat ke waktu tidur atau aktivitas dapat membuat anak menolak makan. Untuk itu, sesuaikan waktu makan ke waktu yang tepat.
Dengan cara melibatkan anak dapat memilih dan mempersiapkan makanan, ibu membantu meningkatkan antusiasme anak terhadap makanan. Perkenalkan anak pada makanan yang beragam dan biarkan mereka memilih makanannya sendiri di antara opsi yang ibu berikan.
Banyak anak mengalami masalah sensorik, terutama dengan tekstur, aroma, atau warna makanan tertentu sehingga mereka akan menolak makanan tersebut. Pahami masalah ini dan coba cari alternatif dari makanan tersebut dengan kandungan nutrisi yang sama.
Masalah pada mulut seperti batuk atau tersedak saat makan dapat menjadi petunjuk bahwa anak memiliki masalah motorik pada mulut. Ibu bisa melakukan terapi memberi makan agar hambatan secara fisik ini tidak mengganggu asupan nutrisi anak.
Masalah perilaku, perubahan yang baru terjadi, atau adanya pemicu stres pada kehidupan anak dapat memengaruhi pola makan mereka. Lebih dari sekadar menolak makan, mengenali masalah seperti ini dapat menjadi salah satu cara mengatasi perilaku GTM pada anak.
Salah satu cara membantu mengatasi anak susah makan atau GTM adalah dengan menerapkan feeding rules atau aturan makan yang konsisten. Metode ini bertujuan membentuk kebiasaan makan yang sehat, mengurangi stres saat waktu makan, serta membantu anak mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami.
Berikut beberapa feeding rules yang dapat diterapkan di rumah:
Penerapan feeding rules secara konsisten membutuhkan waktu dan kesabaran. Hindari mengganti aturan setiap hari karena anak memerlukan rutinitas yang jelas untuk membentuk kebiasaan makan yang sehat.
Apabila GTM berlangsung lama disertai berat badan anak turun atau anak tampak lemas, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Baca Juga: Pahami Global Development Delay dan Cara Melatih Anak GDD di Sini!
Sama seperti orang dewasa yang membutuhkan nutrisi penting seperti vitamin, mineral, karbohidrat, protein, dan lemak untuk kesehatan yang optimal, anak-anak juga memiliki kebutuhan nutrisi khusus yang bervariasi sesuai usia. Penting untuk mengonsumsi makanan padat nutrisi bagi anak-anak untuk mendapatkan nutrisi yang diperlukan tanpa asupan kalori yang berlebihan.
Di antara makanan padat nutrisi yang direkomendasikan adalah makanan laut, daging tanpa lemak, unggas, telur, kacang-kacangan, buah-buahan segar, biji-bijian seperti quinoa dan oatmeal, serta olahan susu rendah lemak. Selain itu, kacang-kacangan, biji-bijian, dan olahan kedelai tanpa garam juga dapat menjadi pilihan untuk melengkapkan pola makan seimbang.
Meskipun terdapat gula alami dari buah-buahan dan susu, penting untuk membatasi tambahan gula, lemak jenuh, dan garam dalam makanan anak. Seringnya konsumsi makanan olahan, soda, dan camilan atau dessert dapat menyebabkan asupan tambahan-tambahan gula, lemak jenuh, serta garam secara berlebihan.
Bagi orang tua dan pengasuh, memahami perbedaan antara gula alami dan gula tambahan, memberi biji-bijian, dan memahami kandungan natrium dalam makanan olahan adalah langkah penting untuk menjaga pola makan seimbang bagi anak-anak. Jika ragu mengenai kebutuhan nutrisi anak, konsultasikan dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi.
Anak GTM tetap membutuhkan asupan gizi lengkap. Berikut makanan padat nutrisi yang bisa jadi pilihan:
Membuat suasana makan yang menyenangkan dapat membantu anak keluar dari fase GTM atau picky eater. Berikut beberapa cara stimulasi makan:
Anak cenderung lebih antusias saat makan terasa seperti permainan.
Anak merasa lebih aman dan nyaman dengan jadwal makan yang tetap.
Anak yang ikut menyiapkan makanan lebih cenderung untuk mencicipi hasil masakannya sendiri.
Biarkan anak menyentuh, mencium, atau memainkan makanan tanpa tekanan untuk makan.
Hal ini bisa membangkitkan rasa ingin tahu anak tanpa paksaan.
Fokus pada usaha anak, bukan hanya hasil (“Wah, kamu sudah coba gigitan pertama, hebat!”).
Menekankan pentingnya mendapatkan nutrisi yang lengkap dan seimbang, ibu bisa memberi anak nutrisi tambahan agar anak mendapatkan semua nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya. Salah satu nutrisi tambahan bagi si Kecil adalah PediaSure.
PediaSure diperkaya dengan kandungan seperti Arginin dan Vitamin K2 yang baik untuk pertumbuhan tulang. Selain itu, PediaSure juga diformulasikan dengan 3 sumber protein kompleks, 15% MCT, DHA dan AA, Omega 3 & 6, prebiotik FOS dan probiotik L.acidophilus, serta 14 vitamin dan 10 mineral. Nikmati PediaSure yang kini mengandung 42% sukrosa lebih sedikit dalam rasa vanilla, madu, dan cokelat. Selain bernutrisi seimbang, mempersiapkan PediaSure juga sangat mudah. Campurkan 4 sendok takar PediaSure ke dalam 190ml air dan berikan anak PediaSure 2-3 kali sehari.
PediaSure kini dilengkapi dengan Peptigro System. Peptigro System mengandung Casein Phosphopeptide (CPP). Kandungan CPP ini dapat membantu mendukung pertumbuhan 2x lebih cepat dengan peningkatan massa otot tanpa menambah lemak, memperkuat tulang, mengurangi jumlah hari sakit, dan meningkatkan kecukupan vitamin D.
ANIAPAC-P-ID-202600450
GTM atau gerakan tutup mulut adalah kondisi ketika anak menolak makan atau mengalami penurunan nafsu makan dalam periode tertentu.
GTM dan picky eater adalah kondisi yang berbeda. GTM biasanya terjadi sementara karena faktor tertentu dan anak memberikan penolakan total terhadap semua makanan. Sementara itu, anak picky eater cenderung memilih jenis makanan tertentu dan menolak makanan yang tidak disukai secara konsisten dalam jangka waktu yang lebih lama.
Saat anak tumbuh gigi, gusi dapat bengkak dan terasa nyeri. Hal itu menyebabkan anak menjadi lebih sensitif sehingga enggan mengunyah atau menelan makanan.
Ibu sebaiknya tidak memaksa anak makan ketika GTM. Pasalnya, memaksa anak makan justru dapat menimbulkan pengalaman negatif saat makan dan trauma sehingga membuat anak semakin menolak makanan.
SUMBER:
IDAI | Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Batita. Retrieved on September 15, 2023, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-batita.
Why Your Toddler Won’t Eat: Possible Causes, Solutions. Retrieved on September 15, 2023, from https://www.verywellhealth.com/what-to-do-when-your-child-is-not-eating-anything-1323965.
What Can You Do If Your Child Refuses to Eat Anything?. Retrieved on September 15, 2023, from https://www.healthline.com/health/parenting/child-refuses-to-eat-anything.
Nutrition for kids: Guidelines for a healthy diet - Mayo Clinic. Retrieved on September 15, 2023, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/nutrition-for-kids/art-20049335
Cleveland Clinic. (2023, May 24). Teething (teething syndrome): Symptoms & tooth eruption chart. Retrieved on June, 18, 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/11179-teething-teething-syndrome
Nasar, S. S. (2015, June 30). Pentingnya mengatur jadwal makan anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Retrieved on June, 18, 2026 from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pentingnya-mengatur-jadwal-makan-anak

Istilah Life Begins After Coffee tentu tidak jadi soal bagi orang dewasa yang memang tidak ada masalah dengan konsumsi kopi, termasuk Ibu. Tapi, bagaimana jika minuman ini dikonsumsi oleh si Kecil? Bolehkah anak kecil minum kopi?
![]()
Apa itu faktor genetik? Faktor genetik memiliki banyak pengaruh pada perkembangan anak. Tapi, apakah itu satu-satunya faktor?

Dengan mengetahui status gizi pada anak, Ibu dapat mendeteksi apakah Si Kecil mengalami stunting, wasting, kekurangan atau kelebihan berat badan. Nah, apa saja yang perlu Ibu ketahui tentang gizi pada anak?
Anda akan keluar ke situs web Abbott khusus negara atau wilayah lainnya. Perlu diketahui bahwa situs yang Anda kunjungi ditujukan untuk penduduk negara atau wilayah tertentu, seperti yang tercantum di situs tersebut. Situs ini mungkin berisi informasi tentang obat-obatan, perangkat medis, dan produk lain atau penggunaan produk tersebut yang tidak disetujui di negara atau wilayah lain.
Situs web yang Anda kunjungi juga mungkin tidak dioptimalkan untuk ukuran layar perangkat tertentu. Apakah Anda ingin melanjutkan dan keluar situs web ini?