5 Penyebab Sarkopenia dan Hubungannya dengan Frailty pada Lansia

5 Penyebab Sarkopenia dan Hubungannya dengan Frailty pada Lansia

frailty pada lansia
frailty pada lansia
frailty pada lansia

Peningkatan angka harapan hidup membuat isu kesehatan lansia menjadi perhatian penting. Salah satu tantangan utama pada kelompok usia lanjut adalah frailty, kondisi yang ditandai dengan penurunan cadangan fisiologis tubuh sehingga lansia lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Faktor kunci dalam frailty yang sering tidak disadari adalah sarkopenia, yaitu penurunan massa dan kekuatan otot yang terjadi seiring bertambahnya usia.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga berkontribusi terhadap kelemahan fisik dan meningkatnya resiko jatuh pada lansia, yang dapat berujung pada disabilitas dan penurunan kualitas hidup.

Apa Itu Frailty?

Frailty adalah suatu sindrom klinis yang termasuk dalam sindrom geriatri, ditandai dengan menurunnya kekuatan, daya tahan tubuh, dan fungsi fisiologis. Lansia dengan frailty cenderung lebih mudah jatuh, mengalami infeksi, serta sulit pulih dari penyakit akut.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), frailty bukanlah penyakit tunggal, melainkan kondisi multidimensi yang melibatkan faktor fisik, psikologis, dan sosial. Salah satu manifestasi utama frailty adalah kelemahan fisik, yang sering kali berkaitan erat dengan kondisi sarkopenia.

Apa Itu Sarkopenia?

Sarkopenia adalah kondisi hilangnya massa otot, kekuatan otot, dan fungsi otot secara progresif, terutama pada usia lanjut. Mayo Clinic menyebutkan bahwa sarkopenia dapat mulai terjadi sejak usia 30-40 tahun dan semakin cepat setelah usia 60 tahun apabila tidak dicegah.

Kehilangan massa otot ini berdampak langsung terhadap kemampuan lansia dalam mempertahankan berat badan ideal lansia, melakukan aktivitas sehari-hari, serta menjaga keseimbangan tubuh. Tanpa intervensi, sarkopenia menjadi salah satu penyebab sarkopenia utama frailty pada lansia.

7 Penyebab Sarkopenia

Berikut beberapa faktor yang berkontribusi sebagai penyebab sarkopenia:

  1. Penuaan alami, yang menyebabkan penurunan sintesis protein otot.
  2. Kurangnya aktivitas fisik, terutama latihan kekuatan.
  3. Asupan protein yang tidak mencukupi, sehingga otot tidak mendapatkan nutrisi optimal.
  4. Perubahan hormonal, seperti penurunan hormon pertumbuhan dan testosteron.
  5. Peradangan kronis, yang sering terjadi pada penyakit degeneratif.
  6. Penyakit kronis, seperti diabetes dan penyakit ginjal.
  7. Gangguan nutrisi dan penurunan nafsu makan, yang umum terjadi pada lansia.

Kombinasi faktor-faktor tersebut mempercepat hilangnya massa otot dan meningkatkan risiko frailty.

Baca Juga: 17 Contoh Latihan Daya Tahan Tubuh & Otot Wajib Dicoba

5 Gejala Sarkopenia

Sarkopenia sering berkembang secara perlahan dan tidak disadari. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

  1. Penurunan kekuatan genggam tangan
  2. Kesulitan berjalan atau bangkit dari kursi
  3. Cepat lelah saat beraktivitas ringan
  4. Penurunan kecepatan berjalan
  5. Postur tubuh memburuk

Gejala ini berkontribusi langsung terhadap resiko jatuh pada lansia dan menurunkan kemandirian mereka.

Hubungan Frailty dan Sarkopenia pada Lansia

Sarkopenia dan frailty memiliki hubungan yang sangat erat dan saling memperburuk. Sarkopenia sering dianggap sebagai komponen utama dari frailty fisik. Hilangnya massa otot menyebabkan penurunan kekuatan dan daya tahan, yang pada akhirnya mempercepat timbulnya frailty.

National Institutes of Health (NIH) menyatakan bahwa lansia dengan sarkopenia memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mobilitas, jatuh, hingga rawat inap. Kondisi ini sering kali menjadi pintu masuk menuju sindrom geriatri yang lebih kompleks, seperti ketergantungan dan disabilitas.

5 Faktor Risiko Lansia Mengalami Frailty dan Sarkopenia

Beberapa faktor risiko utama yang meningkatkan kemungkinan lansia mengalami frailty dan sarkopenia antara lain:

  1. Usia lanjut di atas 65 tahun
  2. Gaya hidup sedentari
  3. Status gizi yang buruk
  4. Penyakit kronis multipel
  5. Gangguan sistem imun

Penurunan sistem imun dan massa otot diketahui saling berkaitan. Berdasarkan data fisiologis, tubuh dapat kehilangan massa otot hingga 33% mulai usia 40 tahun, dan penurunan sel imun dapat mencapai 30% di usia 75 tahun. Bahkan, kehilangan massa otot meningkatkan risiko pneumonia hingga 3,9 kali lipat.

Dalam konteks ini, dukungan nutrisi menjadi bagian penting dari pencegahan frailty. Ensure Gold Streng+thPro dirancang untuk menjawab dua masalah besar yang muncul seiring bertambahnya usia, yaitu kehilangan massa otot dan melemahnya daya tahan tubuh. Produk ini mengandung kombinasi protein berkualitas (kasein, whey, dan soya), HMB, serta beta glukan yang membantu mempertahankan massa otot sekaligus mendukung imunitas harian.

Pendekatan nutrisi yang tepat, dikombinasikan dengan aktivitas fisik ringan dan pemeriksaan kesehatan rutin, dapat membantu lansia mempertahankan fungsi otot dan kualitas hidup.

 

ANIAPAC-P-ID-202600234

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

1. Siapa yang Berisiko Mengalami Frailty?

Frailty lebih sering terjadi pada lansia dengan penyakit kronis, status gizi buruk, dan aktivitas fisik yang rendah. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia dan adanya sarkopenia.

2. Apa Itu Sindrom Kelemahan Fisik?

Sindrom kelemahan fisik adalah kondisi yang ditandai oleh penurunan kekuatan otot, kecepatan berjalan, dan daya tahan tubuh. Kondisi ini merupakan bagian dari sindrom geriatri dan berkaitan erat dengan frailty.

3. Bisakah Frailty Sembuh?

Frailty tidak selalu dapat disembuhkan sepenuhnya, namun dapat dikelola dan diperlambat. Intervensi nutrisi, aktivitas fisik, dan perawatan kesehatan terpadu dapat memperbaiki fungsi fisik lansia.

SUMBER:

Dlima, S. D., Hall, A., Aminu, A. Q., Akpan, A., Todd, C., & Vardy, E. R. L. C. (2024). Frailty: a global health challenge in need of local action. BMJ global health, 9(8), e015173. https://doi.org/10.1136/bmjgh-2024-015173

Mayo Clinic. (2023). Sarcopenia: Symptoms and causes.

https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/23167-sarcopenia

Sayer, A. A., & Cruz-Jentoft, A. (2022). Sarcopenia definition, diagnosis and treatment: consensus is growing. Age and ageing, 51(10), afac220. https://doi.org/10.1093/ageing/afac220

Baier, S., Johannsen, D., Abumrad, N., Rathmacher, J. A., Nissen, S., & Flakoll, P. (2009). Year-long changes in protein metabolism in elderly men and women supplemented with a nutritional cocktail of β-hydroxy-β-methylbutyrate (HMB), L-arginine, and L-lysine. Journal of Parenteral and Enteral Nutrition, 33(1), 71–82. https://doi.org/10.1177/0148607108322403

Qin, L., Jing, X., Qiu, Z., Cao, Z., Jiao, Y., Routy, J. P., & Li, T. (2016). Aging of immune system: Immune signature from peripheral blood lymphocyte subsets in 1068 healthy adults. Aging, 8(5), 846–859. https://doi.org/10.18632/aging.100894

Altuna-Venegas, S., Aliaga-Perez, L., Maguiña, J. L., Parodi, J. F., & Runzer-Colmenares, F. M. (2019). Risk of community-acquired pneumonia in older adults with sarcopenia of a hospital from Callao, Peru 2010-2015. Archives of Gerontology and Geriatrics, 82, 100–105. https://doi.org/10.1016/j.archger.2019.01.011

Produk Rekomendasi

Artikel Terkait