PediaSure
- Main Image
-
- Title
- PediaSure Vanila
- Detail Page Path
Pernahkah Anda menghadapi bayi atau balita yang menangis, marah, mengamuk, hingga meronta-ronta tanpa sebab? Kondisi inilah yang disebut tantrum.
Beberapa orang tua menganggap tantrum sebagai penyimpangan perilaku, sehingga anak dicap nakal atau rewel.
Tapi Bu, tak perlu cemas, tantrum merupakan bagian dari tahapan perkembangan anak.
Hampir semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, mengalaminya. Namun, frekuensinya berbeda-beda. Ada anak yang sering mengalami kondisi ini dan ada yang hanya sesekali saja .
Lalu, apa itu tantrum pada anak dan bagaimana mengatasinya?
Perkembangan emosional anak berhubungan dengan kemampuan mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi. Perkembangan emosional anak terjadi secara bertahap seiring dengan perkembangan otak, pengalaman yang dialami anak, serta interaksi dengan orang tua. Salah satu bentuk luapan emosi yang umum terjadi pada balita adalah tantrum.
Tantrum bukan berarti anak nakal, gangguan perilaku pada anak, atau pola asuh orang tua kurang baik. Pada sebagian besar kasus, tantrum merupakan bagian normal dari proses belajar mengelola emosi. Hal ini terjadi karena area otak yang berperan dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan masih berkembang, sementara emosi yang dirasakan anak sudah sangat kuat. Selain itu, kemampuan bahasa balita yang masih terbatas membuat mereka kesulitan menyampaikan kebutuhan atau perasaannya.
Berikut tahapan perkembangan emosional anak sesuai usia:
Ternyata, anak sudah mengenali emosi sejak bayi, lho. Pada usia 0-2 bulan, bayi mulai mengenali emosi dasar, seperti senang, marah, dan takut. Bayi merespons suara, sentuhan lembut, serta tatapan pengasuh. Pada usia sekitar 1–2 bulan, bayi mulai menunjukkan senyum sebagai bentuk interaksi emosional pertama.
Pada usia ini, anak mulai belajar menenangkan diri dan mengatur respons emosinya. Interaksi hangat dengan orang tua membantu bayi memahami rasa aman. Pada usia 4–5 bulan, bayi mulai mengenali pengasuh utama dan menunjukkan ekspresi emosi yang lebih jelas.
Ikatan emosional (attachment) dengan pengasuh berkembang semakin kuat. Bayi mulai mengalami cemas jika ada orang asing (stranger anxiety) dan menunjukkan ketidaknyamanan saat berpisah dengan orang tua.
Anak mulai mengeksplorasi lingkungan dengan dukungan orang tua. Pada fase ini, kemampuan empati mulai muncul. Anak dapat menunjukkan respons sedih ketika melihat orang lain menangis atau merasa bangga saat mendapat pujian. Mereka juga mulai mengekspresikan kebutuhan melalui gestur, seperti menunjuk atau menunjukkan benda yang menarik perhatian.
Fase ini ditandai dengan munculnya kemandirian (autonomy). Anak mulai ingin melakukan banyak hal sendiri, tetapi kemampuan mengendalikan emosi belum berkembang optimal. Akibatnya, anak lebih mudah frustrasi dan mengalami tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi atau sulit mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Pada usia ini, kata-kata seperti "tidak" dan "punyaku" mulai sering digunakan.
Pada usia ini kemampuan mengendalikan emosi dan memahami aturan sosial mulai berkembang. Anak belajar bergiliran, berbagi, bekerja sama, serta menyesuaikan ekspresi emosinya dengan situasi sosial. Meski masih sesekali tantrum, anak mulai mampu mengungkapkan perasaan melalui kata-kata. Peran orang tua dalam menetapkan batasan yang konsisten sangat penting untuk membantu anak belajar regulasi emosi.
Anak mulai memahami aturan sosial dengan lebih baik, belajar meminta maaf, memberi pujian, dan menjalin pertemanan yang lebih erat. Kemampuan mengelola emosi, menyelesaikan konflik sederhana, dan mengikuti aturan kelompok juga semakin matang.
Tantrum merupakan ledakan emosi yang tak terkendali, biasanya dengan perilaku yang tidak menyenangkan dan mengganggu.
Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut temper tantrum yaitu perilaku marah pada anak-anak, umumnya usia pra sekolah atau 1-4 tahun.
Riset menunjukkan, tantrum terjadi pada 87 persen anak usia 18-24 bulan, 91 persen anak usia 30-36 bulan, dan 59 persen anak usia 42 sampai 48 bulan.
Balita mengekspresikan kemarahannya dengan berbagai perilaku yang “mengganggu” seperti berteriak, menangis, memukul, menendang, bahkan kadang menyakiti diri sendiri.
Meski saat anak mengalami tantrum sulit dikontrol oleh orangtua, tetapi kemarahan yang meledak,menghentak, berteriak, bahkan menjatuhkan diri ke lantai adalah bagian dari tahapan perkembangan anak yang normal.
Tantrum adalah cara anak mengkomunikasikan perasaannya. Orangtua bisa belajar dengan memahami penyebab tantrum.
Tantrum pada anak dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tantrum manipulatif dan tantrum emosional.
Ada beberapa ciri-ciri tantrum pada anak yang umum ditemui, di antaranya:
Mengetahui ciri-ciri tantrum pada anak ini membuat orangtua lebih siap merespons dengan tenang dan efektif.
Selain ciri-ciri yang tampak secara fisik, gejala tantrum juga bisa terlihat dari perubahan emosi secara cepat, seperti:
Mengenali gejala tantrum sejak awal dapat membantu orangtua mengantisipasi dan mencegah tantrum bertambah parah.
Tantrum pada anak bisa disebabkan banyak hal, bahkan hal yang tampaknya sepele. Namun, ada beberapa penyebab tantrum yang paling umum, di antaranya:
Baca Juga: Apa Itu Stunting dan Bagaimana Cara Mencegahnya?
Tantrum adalah hal normal dalam tahapan perkembangan anak. Tapi, kerap kali tantrum membuat orangtua frustasi.
Lalu, bagaimana cara mengatasi anak tantrum? Beberapa hal bisa dilakukan orangtua saat anak tantrum, di antaranya:
Metode time out untuk anak bukan hukuman, melainkan cara meredakan emosi balita yang bisa ibu coba. Time out memberi kesempatan bagi anak untuk menenangkan diri dan meregulasi emosi.
Time out umumnya efektif diterapkan pada anak usia sekitar 2 tahun ke atas, ketika anak sudah mulai mampu memahami hubungan sederhana antara perilaku dan konsekuensinya. Durasi time out biasanya sekitar 1 menit per usia anak, dengan batas maksimal sekitar 5 menit.
Time-out juga merupakan cara mengatasi anak tantrum di tempat umum ataupun di rumah. Ibu bisa menerapkan metode time out untuk anak ketika anak sudah menunjukkan ciri-ciri anak tantrum berlebihan seperti menangis keras, berteriak, bertindak agresif, menyakiti diri sendiri atau orang lain, melempar, menendang, dan merusak barang. Prinsip penerapan metode time out untuk anak adalah:
Setelah time out selesai, orang tua disarankan menjelaskan kembali alasan penerapan metode tersebut dengan nada tenang tanpa kemarahan, kemudian mengarahkan anak untuk kembali ke aktivitas positif. Cara ini membantu anak memahami batasan perilaku sekaligus melatih kemampuan regulasi emosi secara bertahap.
Salah satu cara mencegah anak tantrum adalah dengan menjaga suasana hatinya. Beberapa strategi di bawah ini bisa diterapkan dalam mencegah tantrum.
Anak diberikan kesempatan untuk “mengontrol”. Daripada memberi pertanyaan dengan jawaban iya atau tidak, anak bisa diberikan pilihan. Misalnya pilih baju warna merah atau biru, ingin kentang atau jagung, dan sebagainya.
Orangtua bisa menjelaskan apa yang akan dihadapi anak dalam beberapa waktu ke depan. Misalnya, hari ini akan pergi dengan lama perjalanan sekian jam. Atau jika harus ditinggal, anak diberi penjelasan akan ditinggal di rumah dengan pengasuh, dan berapa lama akan ditinggal.
Hindari sebisa mungkin menggunakan kata perintah karena terkesan mengintimidasi. Sebaiknya gunakan ajakan atau pertanyaan.
Setiap anak punya “batas” yang berbeda. Anda harus memahami batas anak. Jika anak sudah sibuk seharian, berkunjung ke rumah kakek nenek dan bermain, maka batalkan rencana untuk mengajaknya makan di luar atau pergi ke tempat yang banyak orang.
Berikan pujian atau pelukan dan dukungan jika ia berhasil berperilaku baik. Contoh, katakan betapa bangga dan senangnya Anda karena ia duduk manis selama makan malam.
Saat berada di tempat umum, jangan lupa libatkan anak dalam percakapan. Jangan biarkan ia sendirian tanpa perhatian dan merasa tersisih.
Pastikan tempat yang akan dikunjungi tidak memicu anak tantrum, misalnya pilih restoran yang pelayanannya cepat dan tidak terlalu ramai.
Memahami buah hati saat tantrum memang menjadi tantangan para orangtua. Selain mendampingi anak dan selalu ada di dekatnya, orangtua juga bisa memberikan makanan untuk menenangkan tantrum pada anak.
Meski begitu, Anda perlu memastikan makanan yang diberikan adalah yang sehat dan bernutrisi. Hal ini untuk memastikan nutrisi anak tercukupi agar ia tetap sehat, bugar, dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat.
Selain itu, jenis makanan ternyata juga berpengaruh besar pada frekuensi trantum anak. Apa yang Si Kecil konsumsi dan seberapa banyak asupan gula dapat mempenngaruhi frekuensi trantum. Hal ini karena naik turunnya gula darah dapat memicu perubahan suasana hati anak, yang diperlihatkan sebagai tantrum.
Nutrisi yang tepat juga dapat membantu mengoptimalkan kemampuan emosional anak. Riset menemukan bahwa kekurangan omega 3 pada anak dapat membuatnya lebih sering mengalami tantrum. Sebaliknya, asupan omega 3 yang cukup dapat memperbaiki gangguan perilaku pada anak.
Selain itu, menjaga kesehatan saluran cerna juga dapat mendukung suasana hati anak melalui hubungan gut brain axis, yaitu adanya hubungan dua arah antara usus dan otak. Koneksi ini tidak hanya memengaruhi fungsi pencernaan, tetapi juga suasana hati, stres, dan perilaku seseorang.
Komunikasi ini terjadi melalui sistem saraf, hormon, serta mikrobioma usus yang berperan dalam menghasilkan zat kimia yang dapat memengaruhi fungsi otak. Ketika kesehatan usus terjaga, keseimbangan komunikasi ini dapat membantu mendukung kondisi emosional yang lebih stabil, termasuk pada anak yang sedang berada dalam fase perkembangan emosi. Karena itu, pemenuhan nutrisi yang tepat menjadi penting untuk menjaga kesehatan saluran cerna sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Asupan gizi yang baik membantu menjaga kesehatan saluran cerna sehingga turut mendukung kestabilan emosi anak. Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi tersebut, PediaSure dengan PeptiGro System dan Casein Phosphopeptide (CPP) dapat membantu mendukung pertumbuhan optimal, memperkuat tulang, serta membantu memenuhi kebutuhan vitamin D harian, sehingga anak lebih siap dalam mendukung tumbuh kembang fisik maupun emosional secara #TumbuhBerkualitas.
Salah satu sumber nutrisi tambahan yang bisa Anda pilih untuk mendukung tumbuh kembang anak adalah PediaSure Peptigro. PediaSure Peptigro mengandung Triple Protein (kasein, soya, dan whey), Arginine, Vitamin K2, serta diperkaya dengan DHA, AA, Omega 3 & 6, dan campuran sinbiotik unik (Prebiotik FOS dan Probiotik L. acidophilus) untuk mendukung kesehatan otak, tulang, dan saluran cerna anak.
Kini, PediaSure dilengkapi dengan formula Peptigro System. Peptigro System mengandung Casein Phosphopeptide (CPP). Kandungan CPP ini dapat membantu mendukung pertumbuhan 2x lebih cepat dengan peningkatan massa otot tanpa menambah lemak, memperkuat tulang, mengurangi jumlah hari sakit, dan meningkatkan kecukupan vitamin D.
Dengan konsumsi PediaSure Peptigro 2–3 kali sehari sebagai bagian dari pola makan seimbang, kebutuhan nutrisi harian anak dapat terpenuhi dengan optimal. Anak pun tumbuh sehat, kuat, cerdas, dan memiliki tinggi badan yang lebih optimal.
ANIAPAC-P-ID-202600449
Tantrum paling sering terjadi pada usia 18 bulan hingga 3–4 tahun. Pada fase ini, anak sedang belajar mandiri tetapi kemampuan mengungkapkan emosi dan mengontrol diri masih terbatas. Frekuensi tantrum biasanya mulai berkurang setelah usia 4–5 tahun seiring berkembangnya kemampuan bahasa, sosial, dan regulasi emosi anak.
Tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan anak, terutama pada usia balita. Kondisi ini terjadi karena anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk mengelola emosi yang kuat seperti marah, kecewa, atau frustasi. Tantrum menjadi salah satu cara anak mengekspresikan kebutuhan dan perasaannya ketika belum bisa menyampaikannya dengan kata-kata.
Perkembangan emosional anak dapat dilatih melalui konsistensi pola asuh dan pendampingan yang tepat. Orang tua dapat membantu dengan cara memvalidasi emosi anak, mengajarkan nama-nama emosi, memberikan contoh pengelolaan emosi yang baik, serta menetapkan batasan yang jelas dan konsisten. Selain itu, metode seperti time-out dapat digunakan untuk membantu anak belajar menenangkan diri dan memahami konsekuensi perilaku.
SUMBER:
Temper Tantrums: What They Are, How To Handle & Possibly Prevent Them - Cleveland Clinic. Retrieved on June 19, 2022 from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/14406-temper-tantrums
Temper tantrums - MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved on June 19, 2022 from https://medlineplus.gov/ency/article/001922.htm
Tantrum Pada Anak - RSUP Dr. Sardjito. Retrieved on June 19, 2022 from https://sardjito.co.id/2019/03/06/tantrum-pada-anak/
Temper Tantrums - StatPearls - NCBI Bookshelf. Retrieved on June 19, 2022 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544286/
Temper Tantrums - STANFORD CHILDREN'S HEALTH. Retrieved on June 19, 2022 from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=temper-tantrums-90-P02295
The Most Common Reasons Behind Your Toddlers Tantrums - The Very Well Family. Retrieved on June 19, 2022 from https://www.verywellfamily.com/the-most-common-reasons-behind-your-toddlers-tantrums-5191029#toc-why-is-my-toddler-having-a-tantrum
Top Tips for Surviving Tantrums - HealthyChildren.org. Retrieved on June 19, 2022 from https://www.healthychildren.org/English/family-life/family-dynamics/communication-discipline/Pages/Temper-Tantrums.aspx
How to Prevent Temper Tantrums - Parents. Retrieved on June 19, 2022 from https://www.parents.com/toddlers-preschoolers/discipline/tantrum/40-ways-to-prevent-tantrums/
8 Magical Foods to Calm Tantrums in Children – (PS Chocolate Is NOT on the List!) - Parenting.FirstCry.com. Retrieved on June 19, 2022 from https://parenting.firstcry.com/articles/experts-share-8-magical-foods-to-calm-tantrums-in-children-and-its-not-chocolate/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2025, Februari 21). Tantrum pada anak dan ketahui apa saja penyebabnya. RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3995/tantrum-pada-anak-dan-ketahui-apa-saja-penyebabnya (Keslan Kemenkes)
Sisterhen, L. L., & Wy, P. A. W. (2023). Temper tantrums. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534819/ (NCBI)
MSD Manuals. (n.d.). Gambaran umum tentang masalah perilaku pada anak-anak. MSD Manuals. Retrieved June 16, 2026, from https://www.msdmanuals.com/id/home/masalah-kesehatan-anak/masalah-perilaku-pada-anak-anak/gambaran-umum-tentang-masalah-perilaku-pada-anak-anak
Cleveland Clinic. (n.d.). The gut-brain connection. Retrieved June 16, 2026, from https://my.clevelandclinic.org/health/body/the-gut-brain-connection
![]()
Penasaran dengan Flu Singapura? Penyakit yang mudah menular ini rentan menyerang anak-anak. Lalu bagaimana mengatasinya?
![]()
Anemia dapat menyebabkan anak menjadi lesu dan tidak bersemangat dalam beraktivitas. Kasus anemia pada anak yang ekstrim menyebabkan masalah tumbuh kembang
![]()
Gerakan tutup mulut atau GTM adalah fase yang cukup membuat khawatir karena anak tidak mendapatkan energi dan nutrisi yang cukup. Begini cara mengatasinya
Anda akan keluar ke situs web Abbott khusus negara atau wilayah lainnya. Perlu diketahui bahwa situs yang Anda kunjungi ditujukan untuk penduduk negara atau wilayah tertentu, seperti yang tercantum di situs tersebut. Situs ini mungkin berisi informasi tentang obat-obatan, perangkat medis, dan produk lain atau penggunaan produk tersebut yang tidak disetujui di negara atau wilayah lain.
Situs web yang Anda kunjungi juga mungkin tidak dioptimalkan untuk ukuran layar perangkat tertentu. Apakah Anda ingin melanjutkan dan keluar situs web ini?