PediaSure
- Main Image
-
- Title
- PediaSure Vanila
- Detail Page Path
Gangguan pencernaan pada anak bukan hanya membuat Si Kecil rewel, tetapi juga dapat memengaruhi asupan makan, hidrasi, aktivitas harian, hingga proses tumbuh kembang. Pada beberapa kasus, keluhan dapat membaik sendiri dalam waktu singkat, tetapi pada kondisi tertentu Ibu perlu waspada karena gangguan ini bisa berujung pada dehidrasi, penurunan berat badan, dan menurunnya daya tahan tubuh anak. Diare sendiri masih menjadi masalah kesehatan penting pada anak, dan WHO menegaskan bahwa diare dapat menyebabkan kehilangan cairan serta garam tubuh dalam jumlah besar, sekaligus meningkatkan risiko malnutrisi.
Memahami penyebab dan tanda bahayanya membantu Ibu mengambil langkah yang tepat sejak awal. Berikut penjelasan yang perlu Ibu ketahui.
Berikut ini beberapa jenis gangguan pencernaan pada anak yang sering terjadi:
Diare pada anak ditandai dengan buang air besar lebih sering dengan tinja lembek atau cair. Penyebab yang paling umum adalah infeksi virus, bakteri, atau parasit, tetapi diare juga bisa dipicu makanan terkontaminasi, intoleransi makanan, hingga efek samping obat tertentu.
Baca Juga: Bu, Ini 7 Makanan untuk Anak Diare yang Bisa Dikonsumsi
Konstipasi pada anak merupakan kondisi ketika anak sulit buang air besar, frekuensi BAB berkurang, atau tinja keras dan kering. Penyebab tersering adalah menahan BAB, kurang serat, kurang minum, perubahan pola makan, atau pengalaman BAB yang terasa nyeri sehingga anak makin enggan ke toilet.
Gastroenteritis adalah infeksi pada lambung dan usus yang sering menimbulkan kombinasi diare, mual, muntah, kram perut, dan kadang demam. Kondisi ini umumnya terjadi akibat virus dan mudah menular melalui kontak dengan penderita atau konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi.
Pada anak, refluks terjadi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Keluhannya dapat berupa rasa tidak nyaman di dada atau ulu hati, regurgitasi, mual, muntah, batuk, hingga anak menolak makan atau pertumbuhannya kurang optimal bila berlangsung terus-menerus.
Intoleransi laktosa terjadi ketika usus halus tidak memproduksi cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa. Akibatnya, anak dapat mengalami kembung, gas, nyeri perut, mual, dan diare setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai, yakni:
Ibu perlu waspada jika diare pada anak berlangsung lebih dari 24 jam, makin sering, atau disertai muntah berulang. Pada anak kecil, kondisi ini dapat cepat menyebabkan dehidrasi.
Mulut kering, mata cekung, anak sangat haus, urin berkurang, tidak ada air mata saat menangis, atau anak tampak lemas adalah tanda dehidrasi yang tidak boleh diabaikan. Dehidrasi adalah komplikasi utama dari gangguan pencernaan akut, terutama diare dan muntah.
Nyeri yang terus-menerus, anak tampak sangat kesakitan, atau perut tampak membesar dapat menandakan masalah yang lebih serius. Keluhan ini juga perlu diperhatikan bila disertai konstipasi yang menetap.
Adanya darah pada tinja, tinja hitam, atau lendir berlebihan memerlukan evaluasi medis sesegera mungkin. Gejala ini dapat mengarah pada infeksi yang lebih berat atau gangguan lain pada saluran cerna.
Baca Juga: 7 Penyebab BAB Anak Warna Hitam & Cara Mengatasinya
Bila anak sulit makan, tampak lemah, atau berat badannya turun, Ibu sebaiknya tidak menunda pemeriksaan. WHO menekankan bahwa diare dapat berhubungan dengan malnutrisi, dan kondisi gizi yang kurang juga membuat anak lebih rentan mengalami keluhan yang berat.
Adapun cara menangani gangguan pencernaan pada anak, yakni:
Saat anak diare atau muntah, fokus pertama adalah mengganti cairan yang hilang. WHO merekomendasikan oral rehydration solution/ORS (oralit) sebagai terapi utama pada diare, dan Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan pemberian oralit atau cairan rumah tangga yang sesuai untuk mencegah dehidrasi.
Pada diare, anak tetap perlu diberi makan sesuai usianya agar kebutuhan energi dan nutrisi tetap terpenuhi. Makanan sederhana yang mudah dicerna dapat diberikan bertahap, sementara minuman sangat manis atau jus pekat sebaiknya dibatasi karena dapat memperburuk diare.
Untuk konstipasi pada anak, Ibu dapat membantu dengan menambah asupan serat, air putih, dan membentuk kebiasaan duduk di toilet setelah makan. Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan obat pencahar atau pelunak tinja yang sesuai usia anak.
Bila keluhan berulang setelah konsumsi makanan tertentu, misalnya pada intoleransi laktosa, evaluasi pola makan anak bersama dokter dapat membantu. Pengurangan makanan pemicu dan penyesuaian diet sering kali menjadi langkah penting agar gejala tidak terus berulang.
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika ada darah pada tinja, muntah terus-menerus, demam tinggi, sulit minum, nyeri perut berat, atau tanda dehidrasi. Pada beberapa kondisi, anak memerlukan evaluasi lebih lanjut dan terapi medis yang tidak bisa ditunda.
Untuk mencegah gangguan pencernaan pada anak, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
Kebersihan tangan merupakan langkah sederhana tetapi sangat efektif untuk menurunkan risiko infeksi saluran cerna. Virus penyebab gastroenteritis dan kuman penyebab diare dapat menyebar melalui tangan, makanan, air, maupun permukaan yang terkontaminasi.
Air minum bersih, makanan yang diolah dengan higienis, dan sanitasi yang baik sangat penting untuk mencegah gangguan pencernaan pada anak. WHO menegaskan bahwa perbaikan air bersih, sanitasi, dan higiene dapat menurunkan risiko diare secara bermakna.
Asupan serat dari buah, sayur, dan sumber pangan lain serta kecukupan cairan membantu mencegah konstipasi pada anak. Kebiasaan ini juga mendukung fungsi saluran cerna yang lebih baik setiap hari.
Anak yang terbiasa menunda BAB lebih berisiko mengalami konstipasi. Membiasakan waktu ke toilet setelah makan dan memastikan anak aktif bergerak dapat membantu menjaga pola pencernaan tetap teratur.
Anak dengan asupan gizi yang baik cenderung lebih siap menghadapi infeksi, sedangkan diare yang berulang dapat memperburuk status gizi. Karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menekankan pentingnya menjaga pola makan seimbang penting bukan hanya untuk pencernaan, tetapi juga untuk daya tahan tubuh anak dan proses tumbuh kembangnya.
Ketika anak sedang dalam masa pemulihan atau memiliki riwayat makan yang kurang optimal, dukungan nutrisi yang tepat dapat membantu mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisinya sehari-hari. Ibu dapat mempertimbangkan PediaSure Peptigro System, yang kini dilengkapi dengan Casein Phosphopeptide (CPP) atau Pediasure Peptigro CPP. Berdasarkan informasi produk, PediaSure Peptigro System dengan CPP membantu mendukung pertumbuhan 2x lebih cepat dengan peningkatan massa otot tanpa menambah lemak, memperkuat tulang, mengurangi frekuensi jumlah hari sakit, dan meningkatkan kecukupan vitamin D. Dukungan ini dapat menjadi bagian dari upaya dukung 2x Growth Improvement agar anak tumbuh berkualitas, terutama saat Ibu juga menjaga pola makan, hidrasi, dan kebiasaan hidup bersih sehari-hari.
ANIAPAC-P-ID-202600279
Beberapa gangguan pencernaan pada anak yang ringan, seperti diare akut akibat virus atau konstipasi ringan, bisa membaik dengan perawatan rumahan yang tepat. Namun, jika gejala menetap, berulang, atau disertai tanda bahaya, anak perlu diperiksa dokter.
Lama pemulihan bergantung pada penyebabnya; gastroenteritis virus umumnya membaik dalam beberapa hari, sedangkan konstipasi dapat memerlukan waktu lebih lama bila kebiasaan BAB anak belum membaik. Jika diare berlangsung lebih dari 24 jam pada anak kecil atau konstipasi lebih dari 2 minggu, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan.
Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi, pola makan yang kurang sesuai, kurang serat dan cairan, menahan BAB, hingga intoleransi makanan atau refluks. Faktor kebersihan lingkungan, status gizi, dan kondisi daya tahan tubuh anak juga ikut memengaruhi.
SUMBER:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, May 28). Mengenal diare pada anak. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4129/mengenal-diare-pada-anak
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022, August 10). Waspada dehidrasi pada anak dengan diare. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1290/waspada-dehidrasi-pada-anak-dengan-diare
Mayo Clinic. (2025, January 18). Diarrhea: Symptoms and causes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241
Mayo Clinic. (2025, April 16). Constipation in children: Symptoms & causes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation-in-children/symptoms-causes/syc-20354242
Mayo Clinic. (2021, November 14). Viral gastroenteritis (stomach flu): Symptoms & causes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/viral-gastroenteritis/symptoms-causes/syc-20378847
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (n.d.). Symptoms & causes of constipation in children. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/constipation-children/symptoms-causes
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (n.d.). Symptoms & causes of GER & GERD in children. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/acid-reflux-ger-gerd-children/symptoms-causes
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (n.d.). Symptoms & causes of lactose intolerance. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/lactose-intolerance/symptoms-causes
World Health Organization. (2024, March 7). Diarrhoeal disease. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease
Ow, M. Y. L., Tran, N. T., Berde, Y., Nguyen, T. S., Tran, V. K., Jablonka, M. J., Baggs, G. E., & Huynh, D. T. T. (2024). Oral nutritional supplementation with dietary counseling improves linear catch-up growth and health outcomes in children with or at risk of undernutrition: A randomized controlled trial. Frontiers in Nutrition, 11, Article 1341963. https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1341963
![]()
Pilih susu untuk pencernaan anak yang tepat! Simak panduan memilih susu dengan prebiotik & DHA guna cegah gangguan cerna serta dukung daya tahan tubuhnya
![]()
Sistem pencernaan sangat penting agar anak dapat menyerap nutrisi dengan baik. Ketahui hubungan dan bagaimana cara menjaga kesehatan sistem pencernaan!
![]()
Infeksi pencernaan pada anak bisa disebabkan virus, bakteri salmonella, E. coli, hingga parasit. Kenali gejala & cara mengatasinya di sini!
Anda akan keluar ke situs web Abbott khusus negara atau wilayah lainnya. Perlu diketahui bahwa situs yang Anda kunjungi ditujukan untuk penduduk negara atau wilayah tertentu, seperti yang tercantum di situs tersebut. Situs ini mungkin berisi informasi tentang obat-obatan, perangkat medis, dan produk lain atau penggunaan produk tersebut yang tidak disetujui di negara atau wilayah lain.
Situs web yang Anda kunjungi juga mungkin tidak dioptimalkan untuk ukuran layar perangkat tertentu. Apakah Anda ingin melanjutkan dan keluar situs web ini?