10 Dampak Stunting Jangka Pendek dan Jangka Panjang

10 Dampak Stunting Jangka Pendek dan Jangka Panjang

dampak stunting
dampak stunting
dampak stunting

Stunting merupakan sebuah tantangan besar bagi kesehatan global. Stunting ditandai dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak akibat kekurangan nutrisi yang berkepanjangan, sehingga mempengaruhi tinggi badan fisik dan kemampuan kognitif.

Kondisi ini banyak terjadi di negara-negara berkembang, dan merupakan akibat langsung dari kurangnya asupan nutrisi sejak konsepsi hingga 1000 hari pertama kehidupan, termasuk masa prenatal. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes RI) mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) bahwa prevalensi stunting di Indonesia pada 2022 mencapai 21,6%.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes, menekankan pentingnya mengatasi stunting untuk memitigasi dampak jangka pendek terhadap kesehatan anak sekaligus konsekuensi jangka panjang terhadap produktivitas ekonomi individu secara khusus.

Apa Itu Stunting?

Stunting menurut WHO adalah pengukuran tinggi badan terhadap usia yang berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Kondisi ini mencakup tidak hanya keterbatasan pertumbuhan fisik tetapi juga keterlambatan kognitif dan perkembangan.

Dampak stunting menurut Kemenkes di Indonesia juga memicu masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, ditandai dengan tinggi badan anak di bawah rata-rata akibat asupan nutrisi yang tidak memadai dalam jangka panjang.

Dampak stunting adalah lebih dari sekadar berpengaruh pada kesehatan individu, tetapi juga mempengaruhi kemampuan kognitif, kinerja pendidikan, dan produktivitas ekonomi di masa depan. Pertumbuhan yang terhambat di awal kehidupan dikaitkan dengan masalah kesehatan kronis di masa dewasa, termasuk peningkatan risiko penyakit tidak menular. Dampak sosialnya sangat besar, dengan terhambatnya pertumbuhan yang melanggengkan siklus kemiskinan dan berkurangnya kemajuan ekonomi di tingkat nasional.

Baca Juga: Apa Saja Indikator Stunting Menurut WHO? Cek di Sini!

Penyebab stunting bermacam-macam, meliputi kekurangan gizi, infeksi berulang, dan kesehatan ibu serta gizi yang tidak memadai selama kehamilan. Faktor-faktor ini berkontribusi terhadap kegagalan mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan kognitif. 1000 hari pertama kehidupan, mulai dari kehamilan hingga ulang tahun kedua seorang anak, sangat penting dalam menetapkan pondasi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan.

Apa Penyebab Utama Stunting?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stunting merupakan masalah multifaktorial:

1. Kekurangan gizi dalam jangka panjang

Kekurangan nutrisi pada ibu hamil dan anak menjadi faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan linear terhambat. Hal ini ditegaskan dalam tinjauan global yang menunjukkan bahwa malnutrisi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan sangat berkontribusi pada stunting.

2. Pola makan tidak seimbang

Kekurangan protein, vitamin, dan mineral menghambat proses biologis pertumbuhan tulang dan otak pada anak.

3. Infeksi berulang

Penyakit seperti diare dan ISPA menyebabkan tubuh tidak bisa menyerap nutrisi secara optimal, sehingga menghambat pertumbuhan anak.

4. Akses sanitasi dan air bersih yang buruk

Studi UNICEF Indonesia menyebutkan bahwa sanitasi yang tidak memadai meningkatkan risiko diare dan infeksi lain yang sangat berkaitan dengan stunting.

5. Faktor sosial-ekonomi dan lingkungan

Rumah tangga berpendapatan rendah, pendidikan orang tua rendah, serta akses terbatas terhadap layanan kesehatan meningkatkan risiko stunting pada anak.

Hubungan Dampak Stunting dengan Perkembangan Anak

Dampak stunting bersifat jangka panjang dan dapat memengaruhi seluruh fase kehidupan anak, termasuk membuat anak tidak tumbuh berkualitas:

● Perkembangan otak terhambat

Penelitian menunjukkan anak stunting mengalami penurunan kemampuan kognitif, prestasi akademik, dan daya ingat dibanding anak seusianya.

● Risiko penyakit di masa depan meningkat

WHO mencatat bahwa anak dengan stunting lebih rentan mengalami penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi saat dewasa akibat perubahan metabolisme sejak dini.

● Produktivitas menurun saat dewasa

Studi longitudinal menemukan bahwa stunting dapat menurunkan produktivitas ekonomi seseorang ketika dewasa, berdampak pada kualitas hidup dan kemampuan kerja.

● Pertumbuhan fisik terbatas

Terakhir, dampak jangka panjang stunting adalah membuat tinggi badan anak jauh di bawah standar dan bisa menjadi permanen bila tidak ditangani sebelum usia dua tahun.

10 Dampak Stunting Jangka Pendek Dan Jangka Panjang

Dampak stunting bisa dibedakan antara jangka pendek dan jangka panjang seperti penjelasan berikut ini:

5 Dampak Jangka Pendek Stunting

1. Meningkatnya Penyakit Fatal dan Angka Kematian Anak

Pertumbuhan anak yang terhambat berkaitan dengan kerentanan yang lebih tinggi terhadap infeksi seperti pneumonia dan diare. Kerentanan ini disebabkan oleh melemahnya fungsi kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan frekuensi penyakit dan risiko kematian yang lebih tinggi.

2. Gangguan Perkembangan dan Kemampuan Belajar Pembelajaran Anak

Stunting dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif. Gangguan ini memengaruhi kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga menghambat pembelajaran dan interaksi sosial di tahun-tahun awal kehidupannya yang penting.

3. Status Gizi Buruk

Siklus gizi buruk yang menyebabkan stunting semakin memperburuk kemampuan anak dalam menyerap dan memanfaatkan nutrisi secara efektif. Malabsorpsi ini dapat berkontribusi pada siklus kekurangan nutrisi yang berkelanjutan.

4. Peningkatan Resiko Malnutrisi Akut

Anak-anak yang mengalami stunting lebih rentan mengalami gizi buruk. Wasting, atau malnutrisi akut, menandakan penurunan berat badan yang parah yang semakin membahayakan kesehatan dan peluang kelangsungan hidup anak.

5. Gangguan Kekebalan Tubuh

Kekurangan nutrisi yang menyebabkan stunting juga dapat mengganggu perkembangan dan fungsi sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat anak-anak yang mengalami stunting lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.

5 Dampak Jangka Panjang Stunting

1. Pertumbuhan Tinggi Badan yang Tidak Optimal Saat Dewasa

Seseorang yang mengalami stunting di masa kanak-kanak sering kali tidak mampu mencapai pertumbuhan tinggi badan yang optimal saat dewasa. Manifestasi fisik dari malnutrisi dini ini dapat menimbulkan dampak sosial dan ekonomi.

2. Produktivitas Pendidikan dan Ekonomi Rendah

Stunting mempengaruhi perkembangan kognitif dan prestasi akademik di sekolah. Orang dewasa yang mengalami stunting saat masih anak-anak seringkali memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dan potensi pendapatan yang berkurang, sehingga melanggengkan siklus kemiskinan dan merupakan salah satu dampak stunting jangka panjang yang signifikan.

3. Peningkatan Risiko Penyakit Kronis

Stunting berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan seseorang terkena penyakit tidak menular di masa dewasa, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Risiko ini sebagian disebabkan oleh perubahan metabolisme tubuh akibat malnutrisi dini.

4. Obesitas dan Gangguan Metabolik

Ironisnya, seseorang yang mengalami stunting di awal kehidupannya mengalami peningkatan risiko obesitas dan sindrom metabolik di kemudian hari. Pertambahan berat badan yang cepat setelah usia dua tahun, dalam konteks stunting, diperkirakan meningkatkan risiko ini secara signifikan.

Baca Juga: Obesitas pada Anak: Tanda, Gejala, dan Cara Mengatasinya

5. Dampak Lintas Generasi

Perempuan yang mengalami stunting lebih besar kemungkinannya untuk melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah, sehingga melanggengkan siklus malnutrisi dan terhambatnya pertumbuhan pada generasi berikutnya. Dampak lintas generasi ini semakin menekankan perlunya intervensi yang menargetkan perempuan usia subur untuk memutus siklus stunting.

2 Tips Sederhana Agar Anak Bebas Stunting

Mencegah stunting pada anak-anak sangat penting untuk perkembangan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang anak terutama saat dewasa. Dengan berfokus pada hal-hal penting seperti nutrisi, menyusui, layanan kesehatan, dan vaksinasi, dapat memberikan dampak yang signifikan. Berikut adalah strategi sederhana untuk mencegah stunting:

1. Memastikan Nutrisi yang Cukup

Penting untuk menyediakan makanan seimbang yang kaya nutrisi penting bagi ibu hamil dan anak-anak. Pola makan yang mencakup makanan bernutrisi dan bervariasi memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin maupun anak. Upaya memastikan nutrisi yang cukup termasuk konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, protein, dan produk olahan susu. Suplementasi mungkin diperlukan pada beberapa kasus untuk mengatasi kesenjangan kebutuhan nutrisi tertentu.

2. Pemeriksaan Kesehatan dan Vaksinasi Secara Teratur

Layanan kesehatan preventif, termasuk pemeriksaan rutin, dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan, serta mengidentifikasi potensi masalah sejak dini. Vaksinasi memainkan peran penting dalam melindungi anak-anak dari infeksi yang dapat menyebabkan stunting. Imunisasi terhadap penyakit umum pada masa kanak-kanak merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan anak dan mencegah kondisi yang dapat menyebabkan stunting.

Mengatasi stunting melalui intervensi dini dan tindakan pencegahan komprehensif sangat penting untuk memastikan kesehatan dan keberhasilan perkembangan anak. Nutrisi yang cukup, pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi, dan peningkatan kesadaran mengenai bahaya stunting merupakan hal mendasar dalam mengurangi dampak jangka pendek dan jangka panjang dari stunting. 

 

ANIAPAC-P-ID-202600133

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

1. Apakah Stunting Memengaruhi Tinggi Badan Anak?

Ya. Stunting secara langsung menghambat pertumbuhan tinggi badan anak, bahkan dapat menjadi permanen setelah usia dua tahun jika tidak ditangani dengan tepat. WHO menegaskan bahwa stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan linear yang bersifat jangka panjang.

2. Apakah Stunting Bisa Dicegah?

Bisa. Pencegahan dapat dilakukan melalui pemenuhan gizi ibu hamil, ASI eksklusif, pemberian MPASI bergizi, sanitasi baik, serta pemantauan pertumbuhan rutin. UNICEF Indonesia juga menekankan pentingnya akses makanan bergizi dan layanan kesehatan untuk menurunkan prevalensi stunting secara signifikan.

3. Mengapa 1000 Hari Pertama Kehidupan Penting untuk Mencegah Stunting?

Karena fase ini merupakan periode emas perkembangan otak, metabolisme, dan sistem kekebalan tubuh. Kekurangan gizi dalam fase ini terbukti memberi efek permanen pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak.

SUMBER: 

Stunting dan Pencegahannya. Retrieved on March 7, 2024, from https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2483/stunting-dan-pencegahannya. 

Mengenal Lebih Jauh tentang Stunting. Retrieved on March 7, 2024, from https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2657/mengenal-lebih-jauh-tentang-stunting. 

Stunting in a nutshell. Retrieved on March 7, 2024, from https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell. 

Childhood stunting: a global perspective - PMC. Retrieved on March 7, 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5084763/. 

Childhood stunting: a global perspective - PMC. Retrieved on March 7, 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5084763/. 

Early and Long-term Consequences of Nutritional Stunting: From Childhood to Adulthood - PMC. Retrieved on March 7, 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7975963/. 

A roadmap to reduce stunting - PMC. Retrieved on March 7, 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7487425/. 

Breastfeeding Benefits Your Baby’s Immune System - HealthyChildren.org. Retrieved on March 7, 2024, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/breastfeeding/Pages/Breastfeeding-Benefits-Your-Babys-Immune-System.aspx. 

Rokom. (2023, January 25). Prevalensi stunting Di Indonesia Turun Ke 21,6% Dari 24,4%. Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230125/3142280/prevalensi-stunting-di-indonesia-turun-ke-216-dari-244/

Siregar, R. J., Harahap, M. L., & Suryani, E. (2024). Determinants of stunting among children under five years in Indonesia: Evidence from the 2021–2022 demographic and health survey. International Journal of Public Health Excellence, 3(2), 666–676. https://doi.org/10.55299/ijphe.v3i2.794

Dewey, K. G., & Begum, K. (2011). Long-term consequences of stunting in early life. Maternal & Child Nutrition. https://ecdpeace.org/long-term-consequences-stunting-early-life

Mulyani, A. T., Khairinisa, M. A., Khatib, A., & Chaerunisaa, A. Y. (2025). Understanding Stunting: Impact, Causes, and Strategy to Accelerate Stunting Reduction. Nutrients, 17(9), 1493. https://doi.org/10.3390/nu17091493

ScienceInsights. (2025). What Is Stunting? Causes, Consequences, and Prevention. https://scienceinsights.org/what-is-stunting-causes-consequences-and-prevention/ 

UNICEF Indonesia. (2022). Nutrition: Tackling the triple burden of malnutrition in Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/nutrition

World Health Organization. (2025). Global nutrition targets 2030: Stunting brief. https://www.who.int/publications/i/item/B09383

World Health Organization. (2014). Global nutrition targets 2025: Stunting policy brief. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-14.3

Rangkaian Produk PediaSure

Baca Selengkapnya Tentang Tumbuh Kembang si Kecil