Osteoporosis: Definisi, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Osteoporosis: Definisi, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Banner
Banner
Banner

Osteoporosis atau penyakit tulang keropos adalah salah satu penyakit yang identik dengan orang berusia lanjut atau lansia. Kondisi penyakit osteoporosis ditandai rendahnya massa tulang dan hilangnya jaringan tulang.

Saat seseorang mengalami osteoporosis, tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Penyakit pengeroposan tulang ini juga lebih rentan terjadi pada wanita karena pengaruh hormonal.

Osteoporosis kerap lambat ditangani karena terlambat mendapatkan diagnosis. Keterlambatan diagnosis ini akibat dari gejala penyakit yang sering tidak tampak.

Tulang keropos dianggap sebagai “silent disease” karena penderitanya tidak dapat merasakan tulangnya melemah dan rapuh. Sering kali, seseorang mendapat diagnosis osteoporosis ketika mengalami patah tulang. Padahal, saat sudah mengalami patah tulang, biasanya kondisi osteoporosis sudah parah.

Lalu, bagaimana kita bisa mengantisipasi penyakit ini? Yuk, kenali osteoporosis lebih mendalam di bawah ini!

Gejala Osteoporosis

Meski gejala osteoporosis pada lansia kerap tidak terlihat, sejumlah gejala dini dapat dirasakan untuk mendeteksinya. Menariknya, gejala dini osteoporosis justru tidak langsung terasa di area tulang, melainkan:

1. Gusi Tampak Menyusut

Saat mengalami osteoporosis, semua tulang, termasuk tulang rahang akan kehilangan kepadatannya. Inilah mengapa gusi akan tampak menyusut jika seseorang terserang osteoporosis.

2. Kekuatan Cengkeraman Lebih Lemah

Kekuatan genggaman yang melemah dikaitkan dengan kepadatan tulang yang rendah. Kondisi ini biasanya menjadi gejala awal osteoporosis yang terjadi pada wanita pasca menopause.

3. Kuku Lemah dan Rapuh

Kuku dan tulang tersusun dari mineral yang sama. Ketika seseorang mengalami osteoporosis biasanya ditandai dengan kekuatan kuku yang melemah atau rapuh.

Sedangkan pada stadium lanjut, ketika tulang melemah, beberapa gejala ini akan muncul.

4. Sakit Punggung

Saat bagian tulang yang patah karena osteoporosis adalah tulang belakang, biasanya akan memunculkan rasa sakit pada punggung dan leher. Ini karena tekanan yang terjadi menjepit saraf setempat.

5. Penurunan Tinggi Badan

Penurunan tinggi badan ini terjadi karena pengeroposan tulang mulai menekan bagian tulang belakang.

6. Perubahan Postur Badan

Osteoporosis juga akan membuat tubuh menjadi bungkuk. Ini terjadi karena tekanan pada tulang belakang menyebabkan tulang punggung bagian atas melengkung dan menjadi bungkuk.

7. Mudah Mengalami Patah Tulang

Osteoporosis yang sudah parah biasanya ditandai dengan tulang yang mudah patah atau retak. Bahkan, patah tulang bisa terjadi akibat hal-hal sepele seperti bersin atau batuk yang kuat.

7 Ciri-ciri Osteoporosis

Berikut ini beberapa ciri umum osteoporosis yang perlu dipahami:

1. Kepadatan tulang menurun (Low Bone Mineral Density / BMD)

Kepadatan tulang yang rendah merupakan ciri paling objektif dari osteoporosis dan biasanya terdeteksi melalui pemeriksaan DEXA scan. Nilai T-score ≤ –2.5 menunjukkan tulang sudah mengalami pengeroposan signifikan meski belum muncul gejala.

2. Riwayat keluarga dengan osteoporosis atau patah tulang

Memiliki orang tua atau saudara kandung yang mengalami patah tulang panggul meningkatkan risiko seseorang terkena osteoporosis. Faktor ini menunjukkan adanya kecenderungan genetik terhadap kepadatan tulang yang rendah.

3. Postmenopause atau usia di atas 65 tahun

Penurunan hormon estrogen setelah menopause membuat wanita lebih rentan mengalami osteoporosis. Seiring bertambahnya usia di atas 65 tahun, kecepatan kehilangan massa tulang pun meningkat secara alami.

4. Massa otot rendah

Massa otot rendah atau sarkopenia menyebabkan otot melemah sehingga beban mekanis pada tulang berkurang, membuat massa tulang ikut menyusut. Kombinasi sarkopenia dan osteoporosis dikenal sebagai osteosarcopenia, kondisi yang meningkatkan risiko patah tulang akibat jatuh.

5. Berat badan rendah / BMI di bawah 19

Berat badan yang terlalu rendah menandakan cadangan massa otot dan massa tulang yang kecil. Kondisi ini membuat tulang lebih rapuh dan rentan mengalami pengeroposan lebih cepat.

6. Kurang asupan kalsium dan vitamin D

Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi membuat tubuh sulit membangun dan mempertahankan kepadatan tulang. Dalam jangka panjang, gaya hidup ini meningkatkan risiko osteoporosis meski seseorang tampak sehat.

7. Aktivitas fisik rendah

Kurangnya latihan beban membuat tulang tidak mendapatkan rangsangan mekanis yang dibutuhkan untuk tetap kuat. Tanpa aktivitas fisik yang cukup, kepadatan tulang dapat menurun lebih cepat dari normal.

Baca Juga: Aktivitas Fisik Ringan, Sedang, & Berat: Berikut Perbedaannya!

Penyebab Osteoporosis

Penyebab penyakit tulang keropos adalah menurunnya kemampuan tubuh untuk meregenerasi tulang yang menyebabkan kepadatan tulang menurun. Sebenarnya, tubuh akan meregenerasi seluruh tulang di tubuh setiap 10 tahun, tapi kemampuan ini akan menurun seiring bertambahnya usia.

Penurunan kemampuan regenerasi tulang ini diperparah dengan berbagai faktor yang dapat menyebabkan risiko osteoporosis makin tinggi. Beberapa faktor risiko osteoporosis di antaranya:

  1. Jenis kelamin, wanita memiliki risiko lebih besar dibandingkan pria
  2. Usia, semakin bertambahnya usia semakin seseorang rentan mengalami osteoporosis
  3. Ras yang memiliki risiko lebih besar terserang osteoporosis adalah kulit putih dan keturunan Asia
  4. Riwayat keluarga, jika ada anggota keluarga yang mengalami osteoporosis maka Anda lebih rentan
  5. Bentuk tubuh, orang dengan bentuk tubuh kecil biasanya memiliki risiko lebih besar karena mungkin memiliki lebih sedikit massa tulang
  6. Tingkat hormon, osteoporosis umum terjadi pada orang yang memiliki masalah hormon seperti hipertiroidisme.
  7. Pola makan yang buruk dapat meningkatkan risiko osteoporosis karena kurangnya asupan nutrisi untuk tulang
  8. Konsumsi obat-obatan yang mengandung steroid dapat mengganggu proses pembentukan kembali tulang
  9. Kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis
  10. Gaya hidup menetap, konsumsi alkohol atau kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko osteoporosis.

3 Jenis Osteoporosis

Ada beberapa jenis osteoporosis yang umum terjadi, yakni:

1. Osteoporosis Primer Tipe 1 (Postmenopause)

Terjadi pada perempuan setelah menopause akibat penurunan estrogen. Estrogen berperan penting menjaga kepadatan tulang. Kekurangan hormon ini mempercepat penurunan massa tulang sehingga risiko patah tulang meningkat.

2. Osteoporosis Primer Tipe 2 (Senilis)

Umumnya muncul pada usia di atas 70 tahun, disebabkan kombinasi faktor usia, penurunan absorpsi kalsium, dan melemahnya jaringan otot. Jenis ini dialami oleh laki-laki maupun perempuan.

3. Osteoporosis Sekunder

Disebabkan kondisi medis tertentu seperti gangguan tiroid, penggunaan steroid jangka panjang, malnutrisi, atau gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan kurang gerak. Bila penyebab utamanya diatasi, kondisi tulang bisa membaik.

Cara Mengatasi Osteoporosis

Pertanyaan semacam “tulang keropos apa bisa sembuh?” pasti terngiang-ngiang di benak banyak penderita osteoporosis. Sayangnya, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah osteoporosis tidak dapat disembuhkan.

Meski begitu, penanganan yang tepat lewat obat dan perubahan gaya hidup dapat memperlambat bahkan menghentikan pengeroposan tulang.

Penanganan utama dari penyakit keropos tulang adalah mencegah terjadinya patah tulang. Sedangkan pengobatan lain dapat membantu memperlambat kerusakan tulang, bahkan beberapa pengobatan dapat memicu pertumbuhan tulang baru.

Beberapa hal yang dipertimbangkan oleh dokter dalam menentukan tindakan pengobatan osteoporosis adalah jenis kelamin, usia, dan riwayat medis. Secara garis besar, pengobatan osteoporosis adalah:

1. Obat-obatan

Dua jenis obat yang mungkin diresepkan dokter adalah obat untuk meningkatkan kepadatan tulang dan obat untuk meningkatkan pembentukan tulang. Obat yang dapat meningkatkan kepadatan tulang bertujuan untuk mencegah berkurangnya massa tulang.

Artinya, obat ini bermaksud agar tulang tidak tambah rapuh. Sedangkan obat pembentukan tulang bertujuan merangsang pertumbuhan tulang baru yang digunakan pada orang berisiko tinggi mengalami patah tulang.

2. Terapi Hormon

Pada wanita, osteoporosis dikaitkan dengan menurunnya kadar hormon esterogen. Sedangkan pada pria, kondisi ini terkait dengan penurunan bertahap kadar hormon testosteron karena usia.

Karenanya, dokter mungkin menyarankan terapi hormon sebagai salah satu cara mengobati penyakit osteoporosis. Tapi, hal ini juga melihat pertimbangan jenis kelamin, usia, dan riwayat medis pasien karena ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi dari terapi hormon.

3. Suplemen Kalsium dan Vitamin D

Tubuh membutuhkan kalsium untuk menjaga kekuatan tulang. Sedangkan vitamin D dibutuhkan tubuh untuk menyerap kalsium. Konsumsi suplemen kalsium dan vitamin D diharapkan dapat mencegah pengeroposan tulang yang lebih parah.

7 Tips Menghindari Osteoporosis

Ada banyak hal yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Meski begitu, bukan berarti kita tidak bisa mencegah penyakit tulang keropos ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:

  1. Lakukan olahraga untuk memperkuat tulang seperti aerobik, yoga, dan lain sebagainya
  2. Hindari konsumsi alkohol
  3. Berhenti merokok
  4. Batasi minum soda
  5. Jaga berat badan ideal
  6. Penuhi asupan kalsium dan vitamin D
  7. Penuhi asupan nutrisi seperti protein, magnesium, vitamin K, dan Zinc untuk menjaga kesehatan tulang

Rekomendasi Susu atau Asupan Nutrisi untuk Otot dan Tulang: Ensure Gold StrengthPro

Untuk menjaga kepadatan tulang dan kekuatan otot, tubuh membutuhkan kombinasi protein berkualitas, vitamin D, kalsium, serta nutrisi pendukung imunitas. Ensure Gold StrengthPro hadir sebagai susu untuk otot dan tulang yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, terutama pada orang dewasa dan lansia.

Ensure Gold StrengthPro mengandung protein, vitamin D, kalsium, serta beta glukan dari yeast untuk mendukung daya tahan tubuh. Kombinasi nutrisi ini dapat membantu mengurangi risiko penyakit kehilangan massa otot, memperkuat fungsi otot, serta menjaga tulang tetap sehat seiring bertambahnya usia. Produk ini cocok bagi orang yang ingin menjaga kekuatan otot dan tulang agar tetap aktif setiap hari.

 

ANIAPAC-P-ID-202500947

Pertanyaan Umum tentang Osteoporosis

1. Apakah osteoporosis bisa sembuh?

Osteoporosis tidak bisa sembuh total, tetapi bisa dikendalikan. Kepadatan tulang dapat ditingkatkan melalui nutrisi, latihan beban, suplemen sesuai anjuran dokter, dan perubahan gaya hidup.

2. Apa yang harus dilakukan jika didiagnosis osteoporosis?

Fokus pada pola makan tinggi protein, vitamin D, dan kalsium, melakukan latihan kekuatan otot, serta berkonsultasi rutin dengan dokter untuk terapi lanjutan.

3. Apakah osteoporosis hanya terjadi pada lansia?

Tidak. Remaja dan dewasa muda juga dapat mengalaminya, terutama jika kurang nutrisi, kurang aktivitas fisik, atau memiliki penyakit penyerta.

4. Apakah osteoporosis berhubungan dengan penurunan kekuatan otot?

Ya. Penurunan kekuatan otot dan hilangnya massa otot atau sarkopenia yang memperburuk mobilitas dan meningkatkan risiko jatuh yang merupakan kombinasi yang bisa memicu patah tulang.

5. Apa latihan terbaik untuk mencegah tulang keropos?

Latihan beban seperti squat, berjalan cepat, resistance band, dan aktivitas fungsional seperti naik tangga. Latihan ini mendukung kesehatan otot sekaligus kepadatan tulang.

SOURCE:

B. Lawrence Riggs, Sundeep Khosla, L. Joseph Melton, A Unitary Model for Involutional Osteoporosis: Estrogen Deficiency Causes Both Type I and Type II Osteoporosis in Postmenopausal Women and Contributes to Bone Loss in Aging Men, Journal of Bone and Mineral Research, Volume 13, Issue 5, 1 May 1998, Pages 763–773, https://doi.org/10.1359/jbmr.1998.13.5.763

Qadir, A., Liang, S., Wu, Z., Chen, Z., Hu, L., & Qian, A. (2020). Senile Osteoporosis: The Involvement of Differentiation and Senescence of Bone Marrow Stromal Cells. International journal of molecular sciences, 21(1), 349. https://doi.org/10.3390/ijms21010349

Ganesan K, Jandu JS, Anastasopoulou C, dkk. Osteoporosis Sekunder. [Diperbarui 2 Maret 2023]. Dalam: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; Januari 2025-. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470166/

Risk factors. (2019, October 10). International Osteoporosis Foundation | IOF. https://www.osteoporosis.foundation/patients/about-osteoporosis/risk-factors

Tulang Keropos atau Osteoporosis - Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Retrieved 11 June 2022, from https://reumatologi.or.id/tulang-keropos-atau-osteoporosis/

Osteoporosis - NHS UK. Retrieved 11 June 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/osteoporosis/causes/

What Is Osteoporosis? Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment, and Prevention - Everyday Health. Retrieved 11 June 2022, from https://www.everydayhealth.com/osteoporosis/guide/

What Are the Symptoms of Osteoporosis? - Healthline. Retrieved 11 June 2022, from https://www.healthline.com/health/osteoporosis-symptoms#symptoms

Osteoporosis - Mayo Clinic. Retrieved 11 June 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968

What causes bone loss? - Medine Plus. Retrieved 11 June 2022, from https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000506.htm

Osteoporosis Medications - WebMD. Retrieved 11 June 2022, from https://www.webmd.com/osteoporosis/what-to-know-about-osteoporosis-meds

Osteoporosis treatment: Medications can help - Mayo Clinic. Retrieved 11 June 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/in-depth/osteoporosis-treatment/art-20046869

Produk Rekomendasi

Artikel Terkait